iklan

peluang usaha

Rabu, 28 Juli 2010

CIRI-CIRI ANAK INDIGO

Anak-anak Indigo telah menjadi fenomena dan kajian dalam 10 tahun terakhir ini. Walau beberapa pribadi dan komunitas mulai berupaya mengelola anak-anak indigo di Indonesia, tetapi semuanya masih dilakukan secara ‘sambilan’ dan belum ada yang benar-benar fokus. Mudah-mudahan saduran artikel dari berbagai sumber ini dapat mendorong dan membuka wawasan untuk berkembangnya anak-anak indigo di Indonesia sesuai dengan bakat dan misi mereka di dunia ini. Kata indigo sendiri diambil dari nama warna yaitu indigo, yang dikenal sebagai warna biru sampai violet. Orang indigo adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak. Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak indigo tampil beda dengan anak sebayanya. Pancaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku unik. Secara fisik anak indigo sama sekali tak berbeda dengan anak lainnya. Lewat bukunya Understanding Your Life Through Color, Nancy Tappe (1982) membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Pada tubuh manusia terdapat 7 cakra utama, yaitu cakra mahkota ada di puncak kepala, cakra Ajna di antara dua alis, cakra tenggorokan di tenggorokan, cakra jantung di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis, dan cakra dasar ada di tulang ekor. Anak indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Adanya mata ketiga ini membuat anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan menggambarkan masa lalu dan masa datang. Satu hal yang penting dan digaris bawahi, yaitu tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai anak LD (Learning Sidability) ataupun anak ADD/HD (Attentian Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder). Perbedaannya adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya pada anak indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak, tapi tak tampak dalam kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah. Terdapat 4 macam anak indigo: 1* Humanis. Tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir di masa datang adalah dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku menonjol saat ini hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan memiliki pendapat kokoh. 2* Konseptual. Lebih enjoy bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Contoh karir adalah sebagai arsitek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Perilaku menonjol suka mengontrol perilaku orang lain. 3* Artis. Tipe ini menyukai pekerjaan seni. Perilaku menonjol adalah sensitif, dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni, namun beranjak remaja minat terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik. 4* Interdimensional. Anak indigo tipe ini di masa datang akan jadi filsuf, pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orangtua merasa tidak perlu mengajarkan apapun karena mereka sudah mengetahuinya. Mengidentifikasi Anak-anak Indigo Pendapat tentang anak-anak Indigo tidak terbatas para pakar psikologi dan pada prinsipnya terdapat pandangan yang sama tentang mengapa dan untuk apa anak-anak indigo ini lahir ke dunia. Sandra Sedgbeer, seorang redaktur dan penerbit majalah: “Anak-anak yang lahir saat ini nampaknya mempunyai lebih banyak “perangkat lunak” yang telah dimasukkan ke sistem mereka. Mereka adalah lompatan evolusioner; mereka menunjukkan pada kita ke mana langkah tujuan kita sebagai spesies. Dan saya yakin bahwa anak-anak ini lahir dengan susunan saraf yang kemampuannya lebih tinggi. Kita semua juga memiliki kemampuan seperti itu, tetapi kita telah kehilangan itu lebih dari ratusan tahun lalu.” Neale Donald Walsch, pengarang: “Menurut saya, anak-Anak Indigo adalah anak-anak yang kesadarannya berkembang secara dramatis mengenai semua hal yang ada di sekitar mereka, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.” Elizabeth Green, pengarang dan dosen: “Mereka memiliki dasar spiritual yang sangat tinggi. Tidak religius, tetapi spiritual…. Mereka mempunyai perasaan yang dapat mengetahui adanya kekuatan yang lebih tinggi.” Elijah, seorang musisi: “Ada beberapa Indigo yang turun ke planet ini membawa pedang kemauan, pedang kekuatan, untuk memangkas paradigma lama dan menembus ilusi. Ada yang membawa welas asih yang lembut dan ada yang membawa bahasa baru cahaya dan suara…Kenapa para Indigo ke sini? Para Indigo ke sini untuk menjembatani Surga dan Bumi.” KH Amiruddin Syah dari Institut Kajian Tasawuf: “Az Zukhruf”, Jakarta: “Menurut sejarah, Pancasila disusun oleh anak-anak indigo. Pada abad ke 14 Mpu Prapanca menulis Nagarakartagama. Dalam buku tersebut dituliskan Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian disempurnakan oleh Mpu Tantular. Bhinneka Tunggal Ika kemudian dipahami sebagai budaya yg berbeda-beda namun tujuannya adalah satu dan agama yang berbeda juga bertujuan satu yakni Allah dan Kehidupan yang baik”. Dr Tubagus Erwin , Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia (UI) : ” Anak Indigo memang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Anak indigo memiliki moto berjiwa dewasa serta mampu membedakan dan menghargai perbedaan. Namun, indigo bukanlah sesuatu penyakit karena tidak termasuk dalam daftar penyakit sedunia yang dikeluarkan WHO. Mereka memiliki kekuatan spiritual yang tidak dimiliki semua orang. Meski demikian, anak indigo bisa sehat dan sakit, baik secara fisik maupun mental. Yang jelas, anak semacam ini memerlukan pendidikan khusus. Semua tergantung interaksi dengan lingkungannya.” Apakah anak Anda adalah seorang anak Indigo? Ciri-ciri di bawah ini dapat digunakan sebagai patokan awal untuk mengetahui apakah anak Anda berbakat Indigo atau tidak. Ciri-ciri anak berbakat yang indigo: 1* Memiliki sensitivitas tinggi. 2* Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebihan. 3* Mudah sekali bosan. 4* Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis. 5* Memiliki gaya belajar tertentu. 6* Mudah frustasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya. 7* Suka bereksplorasi. 8* Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya. 9* Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain. 10* Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan. Menurut Tubagus Erwin, Alumnus Kedokteran Unair 1967 dan seorang pakar Indigo, anak indigo memiliki enam sifat: *1. Tingkat kecerdasan superior. Biasanya IQ-nya di atas 120. Sehingga mereka enggan mengikuti ritual yang tidak rasional dan tidak spiritual. *2. Anak indigo dapat mengerjakan sesuatu tanpa diajarkan terlebih dahulu. *3. Dapat menangkap perasaan, kemauan, atau pikiran orang lain. *4. Dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pancaindera di masa kini, masa lampau (post-cognition), dan masa depan (pre-cognition). *5. Mengetahui keberadaan makhluk halus. *6. Anak indigo tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan alam dan kemanusiaan Membesarkan Anak-anak Indigo Karena kemampuan khusus yang dimiliki oleh Anak Indigo, mereka menghadirkan tantangan baru bagi orang tua mereka maupun sistem sekolah yang ada saat ini untuk menemukan cara yang tepat demi membantu dan membimbing mereka. Sistem yang ada saat ini tampaknya tidak memiliki cukup instrumen untuk menyediakan lingkungan yang tepat demi memenuhi kebutuhan mereka. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme. Sebenarnya, kemampuan mereka jauh di depan. Kebutuhan mereka lebih banyak. Di samping mengajarkan cara menghafalkan data, banyak pendidik menyatakan bahwa sekolah juga seharusnya mengajarkan anak-anak cara mengambil keputusan, cara makan yang benar, bahkan cara menanam bahan makanan, dan cara untuk bermeditasi. Sekolah semestinya mengusahakan cara-cara untuk memanfaatkan apa yang ada dalam diri anak, membuka kebijaksanaannya yang bersemayam di sana secara alami. Apa yang harus dilakukan orangtua: 1* Hargai keunikan anak dan hindari kritikan negatif. 2* Jangan pernah mengecilkan anak. 3* Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan. 4* Bantu anak untuk berdisiplin. 5* Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun. 6* Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor. 7* Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggap mengada-ada. 8* Jadikan sebagai mitra dalam membesarkan mereka. Menurut Carol dan Tober, anak-anak Indigo memiliki 10 atribut berikut: 1* They come into the world with a feeling of royalty (and often act like it). [Mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi.] 2* They have a feeling of “deserving to be here,” and are surprised when others do not share that. [Mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya.] 3* Self-worth is not a big issue; they often tell the parents “who they are.” [Mereka menganggap bahwa dirinya bukanlah yang utama; seringkali menyampaikan jati dirinya kepada orang tuanya.] 4* They have difficulty with absolute authority (authority without explanation or choice). [Sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan] 5* They simply will not do uncertain things; for example, waiting in line is difficult for them. [Mereka enggan melakukan hal yang tidak pasti, seperti menunggu.] 6* They get frustrated with systems that are ritually oriented and do not require creative thought. [Mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran kreatif.] 7* They often see better ways of doing things, both at home and in school, which makes them seem like “system busters” (non-conforming to any system). [Seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga menimbulkan kesan 'non konformistis' terhadap sistem yang berlaku] 8* They seem antisocial unless they are with their own kind. If there are no others of like consciousness around them, they often turn inward, feeling like no other human understands them. School is often extremely difficult for them socially. [Mereka tampak anti sosial dan terasing kecuali berada dalam lingkungan sesama indigo. Sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisaaasi.] 9* They will not respond to “guilt” discipline. [Mereka tidak akan menanggapi disiplin yang salah.] 10* They are not shy in letting it be known what they need. [Mereka tidak sungkan untuk meminta apa yang dibutuhkannya] Anak-anak Indigo sebagai pembawa perubahan. Menurut Gary Zukave, “Kita sedang berada di tengah-tengah besarnya perubahan kesadaran manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan perubahan pada kesadaran umat manusia ini akan menata ulang apa yang akan dilakukan oleh manusia. Perubahan itu menata ulang jutaan individu dan, menurut saya, dalam beberapa generasi saja, ia akan menata ulang seluruh pengalaman umat manusia. Dan dengan demikian, perubahan itu akan melahirkan anak-anak dalam lingkup persepsi baru yang lebih luas, dan perubahan itu akan memperbesar persepsi mereka yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini. Peristiwa besar itu bukanlah kemunculan Anak-Anak Indigo, tetapi kelahiran sebuah dunia Indigo.” (Di sadur dari berbagai sumber) kabarsehat.com

AWAL MULA HOTEL SANDJAJA PALEMBANG

Sebuah buku dipersembahkan untuk 50 Tahun hotel sandjaja  oleh Yudi Syarofi
beberapa tahun lalu




ERA 1980-an, ketika rumah toko (ruko) mulai menjadi alternatif dalam bisnis konstruksi –sebelumnya, tidak begitu menarik karena keluasan lahan masih mencukupi—di Palembang, banyak pengembang menerapkan konsep 2:1, 3:1, atau 4:1. Artinya, pengembang tidak perlu membeli lahan untuk membangun rukonya, tetapi membagi bangunan –hitungan pintu—dengan pemilik lahan. Siapakah orang yang memulai konsep bisnis serupa itu dan kapan dimulainya? Saya sempat terperangah, saat tahu bahwa tokoh yang mengawalinya adalah seorang perempuan, dan waktunya mulai 1950, ketika belum satu dasawarsa kita merdeka. SIAPAKAH perempuan itu? Dia bernama Tan Ho Nio atau Nellywati. Perempuan kelahiran 2 Agustus 1919 ini merupakan putri bungsu Tan Kim Lie, yang merupakan salah seorang pengusaha konstruksi yang cukup berpengaruh di Palembang pada paruh awal abad ke-20. Salah satu karya sang ayah adalah Markas CPM di kawasan Talangkerangga. Apabila merunut sejarah karya ayahnya, adalah wajar apabila perempuan ini kemudian menekuni bisnis konstruksi. Semasa masih gadis, Nelly biasa membantu ibunya, Liem Tuan Nio, yang membuat kue-kue untuk dijual ke daerah Uluan Palembang. Selain kue, Liem Tuan Nio juga menjual kecap dan bahan kain, melalu kakek Nelly. Sang kakek, Tan King Hien, merupakan salah seorang saudagar Palembang yang biasa membeli hasil bumi di wilayah Uluan dan menjual barang-barang kebutuhan pokok serta tekstil untuk daerah itu, dengan menggunakan kapal. Cukup usia, Nelly menikah dengan Ong Boen Cit, yang merupakan salah satu pengusaha karet besar di Sumatera Selatan pada dekade. Dia bahkan tidak hanya menggunakan rakit curah, tetapi juga membangun gudang permanen di kawasan Sekanak. Hingga kini, bangunan gudang itu masih ada dan dikenal sebagai Gudang Buncit. Sebelumnya, kita lihat dahulu latar belakang sosial ekonomi Palembang pada masa 1910-1940-an. Keresidenan Palembang memang terkenal sebagai salah satu daerah kuasa Hindia Belanda yang makmur karena karet. Pada tahun 1915, ekspor karet dari Palembang sekitar 140 ton lateks. Namun, sekitar tahun 1926, ekspor karet meningkat hingga 100 kali lipat (Peeters; 1997: 103). Pada masa ini, kapal roda lambung merupakan salah satu sarana penting dalam mata rantai perdagangan di Keresidenan Palembang. Dari kawasan Sungai 3-4 Ulu, tempat tinggalnya, Tan King Hien, mengatur bisnisnya. Berdasarkan catatan sejarah, pemukiman Cina di pedalaman –terkait erat dengan hubungan perdagangan—mulai dibangun mulai tahun 1873. Kawasan pemukiman untuk perdagangan itu meliputi Tebingtinggi, Lahat, dan Muaradua (Peeters; 1997: 61). Baru kemudian, berkembang beberapa kawasan lain di sepanjang aliran anak Sungai Musi. Kapal kincir atau sering disebut pula kapal roda lambung yang melayari aliran Sungai Lematang, Sungai Ogan, dan Sungai Komering menjadi jalur lintas perdagangan kawasan Uluan dan Iliran dengan Palembang sebagai pusat perdagangan. Pelayaran komersial yang mulai berlangsung pada 1880-an itu, pada pergantian abad dilakukan setidaknya oleh enam belas kapal, yang terdiri atas enam kapal milik pedagang Palembang, dan sepuluh milik pedagang Cina (Peeters; 1997: 62-66). Salah satunya adalah milik Tan King Hien.Perdagangan dengan kapal roda lambung mengalami kemerosotan pada dekade tahun 1920-an. Ini seiring dengan pembangunan rel kereta api (KA) yang menghubungkan Palembang-Telukbetung, yang rencana pembangunannya dimulai sekitar tahun 1909. Pembangunan rel KA ini dimaksudkan sebagai upaya membuka peluang penanaman modal asing di wilayah pedalaman. Walaupun, apabila dilihat dari kondisi konsorsium pedagang Eropa yang kalah bersaing dengan pedagang Cina dan Palembang pada masa itu, pembukaan rel ini merupakan salah satu strategi pemerintah kolonial untuk meminimalkan peran pedagang Cina dan Palembang lewat jalur sungai. Pembangunan rel oleh Zuid Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) yang dimulai tahun 1912 itu kemudian membuka hubungan antara Palembang-Telukbetung, dengan cabang Prabumulih ke Muaraenim. Terjadilah “revolusi” sarana angkutan, dari perahu dan gerobak ke mobil dan kereta api. Perdagangan dengan kapal roda lambung benar-benar lumpuh pada dekade 1930-an (Peeters; 1997: 133-135). Menikah dan Berusaha Tahun 1940, Ong yang telah menduda karena istrinya, Cik Ayu, meninggal dunia, berusaha mencari istri. Atas kehendak keluarga, Ong dijodohkan dengan Nelly. Mendiang Cik Ayu masih terbilang sebagai bibi Nelly. Saat diboyong ke rumah Ong Boen Cit, Nelly diberi sangu uang sebesar Rp500,00 oleh orangtuanya. Uang ini kemudian ternyata mengubah kehidupan Nelly selanjutnya, justru setelah satu dasawarsa pernikahan mereka. Memasuki dua tahun hidup berumah tangga, tentara Dai Nippon menduduki Indonesia, termasuk Palembang. Bangka, yang diduduki pada 13 Februari 1942, menjadi “batu loncatan” bagi pasukan yang semula mengaku sebagai “Saudara Tua” ini untuk menduduki Palembang. Sehari kemudian, menjelang subuh, Jepang menerjunkan 600-700 personel paramiliternya di Palembang. Masa ini merupakan salah satu periode buruk dalam sejarah perekonomian dan sosial bangsa Indonesia. Krisis ekonomi yang berimbas kepada kekurangan sandang dan pangan pun melanda wilayah Indonesia, termasuk Palembang. Pada masa ini pula, banyak warga yang menjual apa saja harta yang dimilikinya agar dapat membeli makanan. Jual beli barang, terutama benda berharga serupa perhiasan, dilakukan melalui perantara, yang dikenal sebagai cengkau (Palembang: tukang ulo). Semula, Nelly terpanggil untuk membantu dan memanfaatkan uang simpanannya untuk membeli perhiasan yang ditawarkan kepadanya. Namun, semakin banyak orang yang datang kepadanya, sehingga menjadi “bisnis” yang dilakoni selama tahun 1942, hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Uang simpanan itu pun berkembang, dan selanjutnya dimanfaatkannya untuk membeli tanah dan bangunan toko di Jl. Tengkuruk (masa penjajahan namanya Schoolweg atau Jalan Sekolah). Sepuluh tahun menikah, pasangan Ong-Nelly baru dikaruniai seorang putri, Ong Tjen Tju alias Yenny Ong, yang lahir pada 23 Juli 1950. Namun, kebahagiaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Sekitar lima bulan kemudian, 12 Desember 1950, Ong Boen Cit meninggal dunia. Mulailah perempuan ini berusaha, dengan segala kemampuannya. Modalnya, tanah dan bangunan yang telah dibelinya semasa menikah plus dua bentuk perhiasan yang belum terjual oleh cengkau. Singel Parent SEBAGAI anak bungsu, dapat dikatakan Nelly sangat dekat dengan ayahnya. Hal ini berdampak kepada minat dan kemampuannya. Sejak kecil, dia sangat tertarik kepada hal-hal yang berkaitan dengan konstruksi. Hal ini berbeda dengan dua kakak perempuannya, Tan Hok Nio alias Bandung Wati dan Tan Tjiang Nio alias Noni. Semasa kanak-kanak, Nelly kerap diajak ayahnya melihat-lihat bangunan yang ditangani sang ayah. Salah satunya, Markas CPM di Talangkerangga. Kegemaran pada konstruksi ditambah kemampuan bisnis yang mengalir dari darah kakek dan ayahnya, membuat Nelly mulai mereka-reka apa yang dapat diperbuatnya. Saat itu, sepanjang Jl. Jenderal Sudirman, belum ada gedung-gedung dalam ukuran besar dalam perspektif bisnis. Nelly mulai melakukan pendekatan dengan pemilik tanah di sepanjang tepian jalan, yang dahulu dikenal sebagai kawasan Talang Jawa Lama itu. Nelly kemudian menawarkan konsep pembagian antara pihak pembangun dan pemilik tanah dengan sistem 2:1. Ternyata, tawaran ini mendapat sambutan yang sangat baik. Mulailah Nelly membangun gedung, terutama pertokoan di sepanjang Jl. Jenderal Sudirman. Ternyata kemudian, banyak orang yang datang kepadanya, menawarkan tanah untuk dibangun dengan sistem bagi hasil, yang kala itu dinilai pemilik tanah sangat menguntungkan. Toko Buku Sumber Djaja. Konstruksi dan Konstruksi KONSEP bisnis konstruksi Nelly, dengan bendera NV Djaja Sempurna, terus mengalami kemajuan. Bahkan, setelah dia mengelola Hotel dan Restoran Sandjaja, bisnis itu terus berjalan. Dia sempat membangun Gedung Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia plus tiga unit rumah untuk karyawan bank itu, dan gedung Pengadilan Tinggi Palembang. Hingga pertengahan dekada 1950-an, bendera NV Djaja Sempurna terus berkibar. Bisnis konstruksi Nelly, dengan sistem bagi hasil 2:1, membuatnya semakin dikenal dan dipercaya mitra bisnis. Dari sini pula, Nelly yang memutuskan untuk tetap menjadi orangtua tunggal bagi Yenny Ong, mulai membeli bangunan dan tanah. Dua di antara asetnya, adalah satu unit bangunan dan sebidang tanah di Jl. Kapten A. Rivai. Menjelang akhir tahun 1950-an ini, Pemerintah baru membuka akses jalan dari Boom Baru ke Jl. Merdeka, yang kini dikenal sebagai Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Veteran, dan Jl. Kapten A. Rivai. Namun, jalan itu baru berupa tanah yang dikeraskan. Berdasarkan peta, hingga tahun 1950, ruas-ruas jalan itu belum ada. Nelly memiliki dua bidang tanah di tepi jalan yang sedang dalam tahap pembangunan itu. Kedua lahan ini terpisah oleh sebidang tanah yang menjadi lokasi Penginapan Sindanglaya. Dikenal sebagai pebisnis dengan NV Djaja Sempurna, yang bergerak di bidang konstruksi sekaligus supplier bahan bangunan, membuat banyak pihak datang kepada Nelly untuk menjalin kerja sama. Menjelang akhir tahun 1957, sebuah perusahaan menghubunginya untuk membeli kantor. Dalam pengertian, NV Djaja Sempurna menyediakan lahan dan bangunan. Perjanjian pun dibuat. Pembayaran dilakukan dalam tiga termin selama satu tahun. Pembangunan pun dilakukan. Termin pertama jatuh tempo, tak ada pembayaran. Termin kedua jatuh tempo, masih belum ada pembayaran. Termin ketiga jatuh tempo, orang dan perusahaan yang memesan justru menghilang. Saat itu, bangunan kantor sudah hampir selesai. Nelly pun memutar otak. Apabila pembangunan kantor ini dilanjutkan, bakal dijadikan apa bangunannya? Pada saat itu, dia memiliki pemikiran yang cukup inovatif. Apabila sepanjang Jl. Tengkuruk, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Kolonel Atmo, dan Jl. Letkol Iskandar menjadi kawasan pertokoan dan perdagangan, jalan yang baru dibuka ini sebaiknya tidak diarahkan pada wilayah bisnis yang sama. Nelly pun memutuskan untuk membangun hotel. Putar haluan, bangunan yang semula diperuntukkan bagi kantor itu segera diubah bentuknya. Gedung kantor yang hampir jadi itu diubah bentuk dan konstruksinya. Tiga lantai, dengan 22 kamar. Hotel Djaja, cikal bakal Hotel Sandjaja Palembang Penginapan yang kemudian diberi nama Djaja itu kemudian dioperasikan pada 17 Oktober 1958. Pada saat yang bersamaan, Nelly juga membangun restoran di lahan yang berdekatan. Restoran ini kemudian diberi nama San Djaja. Dalam bahasa Mandarin, san berarti tiga. Yang dimaksudnya tiga adalah statusnya dalam keluarga, yang memiliki dua saudara. Sehingga, nama itu dapat mewakili mereka bertiga. Sedangkan jaya, tentu saja mengacu kepada keadaan selalu berhasil, sukses, atau hebat. Kata jaya juga seakan menjadi simbol dari usahanya, mulai dari NV Djaja Sempurna, Toko Buku Sumber Djaja, Hotel Djaja, hingga Restoran San Djaja. Hotel dan restoran inilah yang kemudian menjadi Hotel Sandjaja, seperti yang kita kenal saat ini, setelah dilakukan beberapa kali pengembangan. Inovatif TERKAIT bisnis hotel, boleh dikata Nelly juga memiliki perspektif pemikiran yang sangat maju pada masanya. Awal dekade 1970-an Pemerintah menerapkan kebijakan dalam Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada saat itu, Nelly telah membeli tanah eks-Penginapan Sindanglaya, yang terletak di antara dua gedung miliknya. Di lahan yang semula dimiliki Tjo Sang inilah, Nelly berrencana membangun gedung hotel yang lebih representatif. Dalam pemikirannya, gedung itu memiliki tujuh lantai dengan fasilitas internasional. Saat ini, putri tunggal Nelly, Yenny Ong, telah dewasa dan turut andil dalam manajemen. Atas nama PT Sandjaja, dia pun mengajukan permintaan fasilitas PMDN, yang dalam hal ini pinjaman modalnya dikelola oleh Bappindo. Lewat surat yang ditandatangani pada 10 November 1972, Nelly juga memberikan alasan bahwa dengan rencana perubahan taraf hotel, maka Sandjaja menjadi hotel pioner di bidang kepariwisataan di Palembang. Pembangunan dan perluasan Hotel Sandjaja berlanjut. Hingga akhirnya, hotel itu memiliki 180 kamar, dengan beberapa kelas. Eks-Restoran San Djaja dijadikan bangunan sayap (wing). Sedangkan eks-Hotel Djaja dijadikan Balairung yang dinamakan Srikandi. Hari bersejarah bagi Nelly, setelah perjuangan panjang sejak 1958, berlangsung pada 17 Oktober 1980. Hari itu, Hotel Internasional Sandjaja diresmikan, ditandai dengan pembukaan selubung prasasti peresmian, yang ditandatangani Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Sumatera Selatan, Brigjen H. Sainan Sagiman. Dan, 17 Oktober menjadi tanggal yang sangat penting bagi Nelly dan manajemen Hotel Sandjaja. Pada 17 Oktober 1958, Hotel Djaja dioperasikan. Pada 17 Oktober 1959, Hotel Djaja diresmikan. Pada 17 Oktober 1980, peningkatan status hotel ke taraf internasional secara resmi diaktifkan. Pembukaan selubung prasasti peresmian pemakaian gedung Hotel Sandjaja. Semangat para pengelola Hotel Sandjaja semakin menyala. Pemakaian gedung baru berlantai tujuh itu menjadi semacam penanda bagi lahirnya semangat baru untuk lebih bergiat memajukan bisnis, bukan hanya di bidang penginapan melainkan juga bidang kepariwisataan. Kerja keras Nelly, didukung semua staf hotel berbuah manis, dua tahun kemudian. Hotel Sandjaja mendapatkan predikat Hotel Berbintang Tiga pada 3 April 1982. Penyerahan sertifikat dilakukan Gubernur H. Sainan Sagiman, disaksikan Direktur Bina Pelayanan Pariwisata Direktorat Jenderal Pariwisata RI. Hotel Sandjaja mendapatkan predikat bintang tiga bersama Hotel Swarnadwipa Palembang. Pada saat yang bersamaan, Sainan Sagiman juga menyerahkan Sertifikat Hotel Bintang Satu untuk Hotel Sari dan Puri Indah di Palembang, Martani di Belitung, dan Lintas Sumatra di Lubuklinggau. Janji Nelly untuk menjadikan hotelnya sebagai penggerak usaha di bidang kepariwisataan seperti tercantum pada surat permohonan fasilitas PMDN kepada Menteri Keuangan RI sepuluh tahun sebelumnya, 10 November 1972, hari itu terbukti sudah. Sainan Sagiman, dalam kata sambutannya, mengatakan bahwa penyerahan sertifikat hotel berbintang itu merupakan kali pertama di Sumatera Selatan. Hal ini, katanya, merupakan penanda adanya kemajuan dalam pengembangan kepariwisataan di daerah ini. Dia juga mengatakan bahwa prospek kepariwisataan di Sumatera Selatan perlu diperluas, karena merupakan salah satu sumber devisa negara, lapangan penyerap tenaga kerja, dan sarana pengembangan budaya bangsa. Belajar dari sejarah hidup seorang Nellywati, saya sangat bangga terhadap Palembang dan para perempuannya. Daerah ini tidak hanya punya perempuan perkasa pada masa lalu, seperti Ratu Sinuhun, penulis Kitab Undang-undang Simbur Cahaya, yang hidup pada abad ke-17. Abad ke-20, ketika alam sudah berbeda, Palembang juga melahirkan sosok perempuan perkasa. Tentu, perannya pun sesuai dengan masanya. Saya pun yakin, masih banyak perempuan serupa ini –dengan peran dan posisi berbeda, tentu saja—yang berada di sekitar kita. Tulisan ini disarikan dari buku "Karya Emas Bunda; 50 Tahun Hotel Sandjaja" (Yudhy Syarofie; Hotel Sandjaja Palembang; 2008)

Sabtu, 24 Juli 2010

15 CIRI ORANG BERBAKAT KAYA

Selasa, 1 Juli 2008 | 09:15 Tidak sulit mencari lelaki kaya. Tapi tidak mudah menemukan lelaki yang pantas Anda cintai sekaligus membuat Anda tidak akan jadi "kaum duafa". Sebelum memutukan menikah dengannya, lihat dulu apakah dia punya 10 dari 15 ciri ini. 1. BEBERAPA REKENING Lihat apakah kekasih Anda punya rekning bank lebih dari satu. Ini bisa jadi indikasi dia berbakat kaya. Karena, biasanya orang yang punya rekening tabungan dua atau lebih cenderung berusaha mengatur uangnya dengan benar. Lelaki tipe ini memisahkan pos-pos pnghasilannya. Misal, satu rekening digunakan hanya untuk menerima transfer gaji dan belanja, rekening lainnya untuk tabungan. 2. SUKA MENOLONG Tidak tepat jika orang yang suka menimbun harta, pelit, serta enggan berbagi dan memberi adalah orang yang berbakat kaya. Justru lelaki yang mudah tergerak hatinya dan gampang menolong oranglah yang pantas Anda lirik. Dia adalah tipe orang yang akan relatif mudah hidupnya. Entah bagaimana caranya, Anda berdua akan sangat jarang kesulitan uang. Dan yang terpenting, kenikmatan memberi itu memang tak ada penggantinya. 3. PUNYA CITA-CITA Jangan harap Si Dia berbakat kaya jika hidupnya dialirkan bagai sungai, entah hendak bermuara di mana. Lelaki yang berbakat kaya selalu punya rencana besar dalam hidupnya. Ada sesuatu di masa depan yang hendak diraihnya. Untuk itu, dia akan punya rencana jangka pendek dan menengah untuk mencapai cita-citanya. Dalam bercita-cita, dia tidak takut ada mmpi yang tampaknya mustahil. 4. TAK BERHOBI SPESIFIK Lelaki yang punya hobi spesifik cenderung menghabiskan uangnya untuk hobinya. Ini juga berlaku untuk lelaki yang hobi berbelanja. Tentu saja ada orang yang punya hobi spesifik punya urat kaya. Namun, toh tidak semua orang punya nasib bisa kaya begitu saja. Lelaki yang tidak punya hobi spesifik biasanya akan mengeluarkan uangnya untuk berbelanja berdasarkan mood. Dia cenderung merasa tidak punya kebutuhan spesifik, sehingga enggan membeli seusatu. 5. BUTA HARGA Dia tidak tahu persis apa bedanya barang mahal atau murah. Buatnya, kemeja ya kemeja. Bentuknya seperti itu, ada ukurannya yang pas dan pantas dipakai ke kantor. Lelaki seperti ini tidak akan bermasalah dengan kemeja murahnya. 6. HIDUNG BISNIS Apakah Anda pernah mendengar dia mengatakan (kurang lebih), "Ini bisa jadi peluang bisnis. Bisa dicoba." Artinya, dia dapat melihat sesuatu, sekecil apa pun, sebagai sebuah peluang bisnis. Tiak banyak orang yang punya kemampuan seperti ini. Jadi, kalau dia kerap melontarkan komentar yang berhubungan dengan peluang bisnis, bisa jadi ia memang berbakat kaya. 7. PEKERJA KERAS Punya hidung bisnis saja tidak cukup tanpa kerja keras. Ini yang membedakan seorang pemimpi kelas berat dengan pengejar mimpi. Seorang pengejar mimpi akan berusaha sekuatnya untuk mewujudkan cita-citanya. Tentunya itu dengan kerja keras. 8. KEAHLIAN KHUSUS Perhatikan deh apakah Si Dia punya satu atau dua keahlian khusus. Misalnya, dia menguasai komputer dengan baik, pandai melobi, atau apa pun. Kemampuan khusus ini bisa jadi modal dia dalam menjalani hidupnya. Lelaki tipe ini cenderung survive dalam hidupnya. 9. BANYAK TEMAN Temannya ada di mana-mana. Tidak hanya mantan teman-teman SMA, kuliah, atau kantor. Tapi juga dari komunitas lain, yang mungkin Anda tidak pernah duga sebelumnya. Orang yang banyak teman bisa diartikan punya networking yang cukup luas sehingga ditaruh di mana pun dia akan bisa hidup (dengan baik). 10. MEMELIHARA PERTEMANAN Kadang Anda jengkel karena dia rajin menelepon atau SMS yang tidak penting ke teman-temannya. Just say hello saja bisa berkepanjangan. Mestinya Anda tidak perlu kesal karena ini adalah caranya untuk memelihara pertemanan. Orang boleh punya banyak teman, tapi jika dia tidak bisa memeliharanya, maka sia-sia saja. 11. MUDAH BERTEMAN Hanya orang yang menyenangkan yang mudah berteman. Pergi ke tempat baru mana pun, dia bisa dengan mudah punya teman ngobrol. Ini menandakan dia orang yang terbuka, punya sense of humor, dan berwawasan cukup luas. Orang-orang seperti ini biasanya tidak sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk jenis pekerjaan baru. Sehingga dia tidak perlu khawatir tidak punya pekerjaan yang baik. 12. PERCAYA DIRI Dia tahu persis apa kelebihan dan kekurangannya, dan percaya orang lain pun begitu. Sehingga, dia tidak gentar ketika berinteraksi dengan orang lain, atau diharuskan melakukan sesuatu yang baru. Termasuk dia percaya bahwa dia bisa hidup layak hari ini atau esok lusa, bersama Anda. 13. FOKUS Dalam melakukan apa pun, dia fokus. Perhatiannya tidak mudah terceraikan oleh hal lain. Orang yang fokus biasanya punya tanggung jawab yang baik. Ini berhubungan dengan bagaimana dia berusaha mencapai cita-citanya, menyelesaikan pekerjaannya, dan serius membangun hidup bersama Anda. 14. OPTIMIS Hampir tidak pernah Anda mendengar, "Ah, susah", Enggak bisa", "Mustahil aku bisa melakukannya", "Malas ah", dan yang sejenisnya. Lelaki pesimis akan sulit survive dalam hidupnya. Keoptimisan bisa membuat seseorang mampu melakukan sesuatu yang secara hitungan di atas kertas sulit. 15. SEHAT Lelaki penyakitan akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidak melakukan apa-apa.. Belum lagi ongkos dokter dan rumah sakit yang makin tidak masuk akal mahalnya. Uang Anda berdua bakal habis di sini. Selain itu, orang yang sehat akan bisa berpikir dengan lebih sehat. Jangan pernah terjebak pada penampilan luar dan mulutnya yang bilang, "Hidupmu terjamin sampai kapan pun Sayang." Karena, yang terpenting Anda merasa nyaman hidup dengannya, dia bisa membuat hidup Anda berarti dan Anda bisa tertawa bersamanya. Kompas.com Penulis: Candra Widanarko | | Sumber : CHIC Dibaca : 45263

MENYEBALKAN ITU GURU YANG MENGUATKAN

Dre Parker/xiao Dre ( Jaden smith junior ) ingin sekali belajar kungfu pada Mr. Hans ( Jackie Chan ). Mr. Hans tidak secara langsung memberikan teori gerakan kungfu pada xiao dre. Justru memberikan pekerjaan yang menyebalkan bagi dirinya. Dengan nada keras dan membentak agar xiao dre memperbaiki kebiasaan buruknya yang melempar jaketnya begitu saja saat melepaskan nya dari badan. "ambil jaket dan gantungkan, setelah digantung jatuhkan jaketnya, setelah jatuh dilantai, ambil dan pakai jaket lalu lepaskan jaket dan gantungkan lalu jatuhkan jaket" begitu seterusnya dan berulang-ulang hingga ratusan kali sehingga xiao dre mandi keringat. namun berkat keinginannya yang kuat agar diajarkan kungfu. xiao dre melakukannya walau tindakannya seolah konyol, menyebalkan dan membosankan. Setelah pulang kerumah ibunya ( tarji p. Henson ) melihat berbeda pada kebiasaan anaknya ( xiao dre ) yang biasanya melemparkan jaket dengan mudah ia langsung menggantungkannya. Hari-hari berikutnya xiao dre datang lagi kerumah Mr. Hans minta dilatih kungfu. Namun yang ia dapat hanya melakukan hal yang sama. Lepas jaket, gantung jaket, ambil jaket, pakai jaket, lepas dan gantungkan. hingga berkali-kali dan berhari-hari. Sehingga xiao dre terasa bosan dan putus asa untuk tidak mau belajar kungfu. Akhirnya Mr. Hans memberikan penyerangan pada xiao dre dengan merebut jaket pada xiao dre. Mr. Hans memberi motovasi pertahankan jaket, jatuhkan jaket, ambil jaket, pakai jaket, lepas jaket, gantungkan jaket ( dengan gaya tetap senyum ). Akhirnya diajarilah berbagai tahap sabar, focus, kuat. Hingga pada akhirnya xiao dre yang semula tidak bisa kungfu, mampu mengalahkan sang juara kungfu diturnamen. Jadilah dia seorang pemenang tetap dengan gayanya yang lucu. Oo, ternyata dibalik tindakan konyol yang menyebalkan tadi, mengandung pengajaran yang menguatkan. Kuat kesabaran, kuat motivasi, kuat inspirasi, dll. Mungkin diluar sana tidak sedikit orang yang berlari menghindari hal-hal yang dianggap menyebalkan dan membosankan. Tetapi mereka itu kehilangan pelajaran berharga dan kesempatan yang ada. inpired the karate kid 2010